1
HASIL PENGAMATAN KELOMPOK 8
Nama Anggota :
1. Anggun Nur Zaskia (1303625057)
2. Aprilia Kristiani Lestari (1303625002)
3. Shellyna Putri Fadilah (1303625054)
4. X’sa Oktan Hermawan (1303625029)
Kelas : Pendidikan Kimia B
HEWAN
1. Kijang
Nama Umum (Lokal) : Kijang Mas, Muncak (Indonesia)
Nama Internasional : Indian Muntjac
Nama Ilmiah : Muntiacus muntjak
Klarifikasi Taksonomi :
Tingkat Takson
Nama
Kingdom
Animalia
Phylum
Chordata
Class
Mammalia
Ordo
Artiodactyla
2
Family
Ruminantia
Genus
Muntiacus
Spesies
Muntiacus muntjak
Ciri-ciri morfologi yang diamati :
Kijang Mas memiliki panjang tubuh 90-110 cm dengan tinggi bahu 40-65 cm dan berat badan
15-35 kg. Bulunya lembut dan pendek berwarna coklat kemerahan hingga kekuningan pada bagian
punggung, sementara bagian perut lebih pucat. Jantan memiliki tanduk sederhana yang tidak bercabang
sepanjang sekitar 15 cm, tumbuh dari batang tulang panjang di kepala.
Habitat/lokasi:
1. Habitat Alami:
Hutan tropika (hutan hujan tropis), Semak belukar, Hutan tanaman, Area dengan vegetasi lebat
untuk perlindungan, dan Daerah dekat sumber air
2. Distribusi Geografis (Penyebaran):
Berdasarkan peta distribusi pada papan informasi, kijang mas tersebar di:
India, Pakistan, Bangladesh, Myanmar, Indocina (Thailand, Vietnam, Laos, Kamboja),
Malaysia, Indonesia (Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan).
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik lainnya
1. Perilaku: Beberapa kijang terlihat sedang beristirahat di bawah struktur peneduh yang terbuat dari
kayu karena cuaca panas sekitar 34 derajat celcius. Kijang berada dalam posisi duduk atau
berbaring, yang menunjukkan kondisi tenang dan merasa aman, mereka tampak berkelompok.
Salah satu kijang tampang berdiri dan mencari posisi duduk, menandakan bahwa struktur peneduh
kekurangan ruang yang mumpuni.
2. Kondisi lingkungan: Lingkungan adalah kandang terbuka, area konservasi dengan banyak
vegetasi alami (ragunan). Struktur peneduh dari kayu berfungsi melindungi kijang dari panas
matahari. Terdapat akar-akar gantung dan pepohonan lebat, menciptakan kondisi mirip hutan yang
cocok untuk spesies seperti kijang. Area tanah tampak lembap dan teduh, mendukung kenyamanan
hewan saat beristirahat.
Hal menarik: Terdapat beberapa kijang dalam satu kandang luas dan tampak berkelompok saat
meneduh dari panas matahari.
3
Manfaat dan peranan ekologis
Kijang Mas berperan penting dalam ekosistem hutan sebagai herbivora pengontrol vegetasi,
mangsa predator (macan tutul, kucing hutan, python), dan penyebar biji untuk regenerasi hutan.
Keberadaannya menjadi indikator kesehatan ekosistem. Manfaatnya bagi manusia mencakup
konservasi keanekaragaman hayati, objek ekowisata, media edukasi lingkungan, dan penelitian ekologi.
Ciri khas dari spesies tersebut
Ciri khas Kijang Mas meliputi marking V/Y di dahi, suara gonggongan seperti anjing (disebut
"barking deer"), dan tanduk jantan sederhana tidak bercabang dengan taring atas menonjol. Sebagai
salah satu rusa terkecil di dunia, memiliki tubuh kecil ideal untuk vegetasi lebat dan kelenjar preorbital
besar untuk komunikasi kimia. Bulu cokelat kemerahan berkilau memberi nama "mas", dengan
kemampuan adaptasi tinggi di elevasi 0-3000 mdpl.
Jenis dan deskripsi umum
Genus Muntiacus mencakup sekitar 12 spesies dengan Muntiacus muntjak (Kijang Mas)
sebagai yang paling tersebar luas dan terbesar. Spesies lain meliputi M. reevesi (Tiongkok), M.
vaginalis (Asia Tenggara), M. atherodes (endemik Kalimantan), M. feae (Myanmar-Thailand), M.
crinifrons (Tiongkok tengah, terancam punah), M. truongsonensis (Vietnam-Laos), dan M. putaoensis
(Myanmar utara). Karakteristik umum genus ini adalah tubuh kecil, tanduk sederhana tidak
bercabang, taring atas pada jantan, kelenjar preorbital besar, perilaku soliter, dan vokalisasi
gonggongan. Semua spesies menghuni hutan lebat sebagai browser yang aktif saat senja dan malam.
Interaksi yang teramati
Kijang-kijang terlihat berkumpul bersama di area yang sama, tetapi tidak menunjukkan
interaksi fisik langsung. Ini merupakan perilaku umum pada herbivora yang sering berada dalam
kelompok untuk rasa aman.
2. Kura-kura sawah (pengganti macan tutul jawa)
4
Nama Umum (Lokal) : Kura-kura Sawah
Nama Internasional : Headed Softshell Turtle
Nama Ilmiah : Cuora amboinensis
Tingkat Takson
Nama
Kingdom
Animalia
Phylum
Chordata
Class
Testudines
Ordo
Testudines
Family
Geoemydidae
Genus
Cuora
Species
Cuora amboinensis
Ciri-ciri morfologi yang diamati
Kura-kura Sawah memiliki warna zaitun hingga hijau tua dengan karapas cokelat gelap
kehitaman bertekstur halus dan tempurung membulat tinggi. Ciri khasnya adalah marking berbentuk
"V" di leher anterior. Plastron berwarna lebih terang, kuning kecoklatan dengan pola gelap. Kepala
berukuran sedang dengan mata menonjol dan leher dapat ditarik sepenuhnya. Kaki pendek berjari
berselaput untuk berenang dengan ekor relatif pendek.
Habitat atau lokasi ditemukannya objek
5
Kura-kura Sawah menghuni perairan air tawar dangkal hingga sedang dengan arus lambat atau
tergenang, meliputi sawah tergenang, rawa, kanal irigasi, kolam, dan danau kecil. Distribusi
geografisnya mencakup Sulawesi, Maluku, Ambon, dan Asia Tenggara lainnya.
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik lainnya
1. Perilaku: Beberapa kura-kura terlihat berjemur di bawah sinar matahari di area kering. Ini adalah
perilaku normal untuk mengatur suhu tubuh (thermoregulation). Ada kura-kura yang berada di
dekat atau sebagian dalam air, menunjukkan aktivitas perpindahan dari air ke darat atau
sebaliknya. Tidak tampak adanya perilaku agresif; kura-kura cenderung tenang dan pasif. Kuraa-
kura dewasa nampak berendam di dalam air tanpa berpindah posisi.
2. Kondisi lingkungan: Lingkungan tampak seperti kandang semi-alami dengan elemen batu, tanah,
kolam kecil, dan dinding enclosure. Terdapat area air yang dangkal sebagai tempat kura-kura
berendam, sesuai kebutuhan mereka. Permukaan tanah kering dan adanya sinar matahari langsung
memberikan kesempatan bagi kura-kura untuk berjemur. Terdapat bebatuan dan undakan kecil
yang dapat membantu kura-kura bergerak antara area air dan daratan.
Hal menarik: Beberapa kura-kura berukuran kecil tampak sedang berjemur, sementara kura-kura
dewasa lebih banyak berendam tanpa menunjukkan tanda-tanda akan berjemur.
Manfaat dan peranan ekologis
Kura-kura Sawah berperan sebagai predator tingkat menengah yang mengontrol populasi ikan
kecil, invertebrata, dan hama sawah seperti keong serta serangga perusak padi. Sebagai omnivora,
spesies ini menjaga keseimbangan vegetasi air dan kualitas perairan. Bagi manusia, memiliki nilai
ekonomi, budaya, konservasi, serta menjadi objek penelitian dan edukasi ekologi perairan dan
keanekaragaman hayati.
Ciri khas dari spesies tersebut
Kura-kura Sawah memiliki ciri khas marking "V" di leher, tempurung membulat tinggi, dan
karapas gelap untuk kamuflase. Kemampuan menarik kepala sepenuhnya ke dalam cangkang menjadi
pertahanan efektif. Adaptasi semi-akuatik dengan kaki berselaput membuatnya lincah berenang dan di
darat. Plastron terang bercorak gelap dengan ukuran tubuh sedang (1520 cm). Toleransinya terhadap
habitat terganggu seperti sawah dan kanal irigasi menunjukkan daya tahan hidup tinggi.
Jenis dan deskripsi umum
6
Genus Cuora terdiri dari sekitar 12 spesies kura-kura kotak Asia, dengan Cuora amboinensis
sebagai yang paling adaptif dan tersebar luas. Spesies lain seperti C. flavomarginata, C. galbinifrons,
C. trifasciata, dan C. aurocapitata memiliki warna mencolok namun banyak yang langka atau terancam
punah. Karakteristik umum genus ini meliputi engsel plastron untuk penutupan cangkang total, ukuran
kecil-sedang, habitat semi-akuatik, omnivora cenderung karnivora, dan perilaku berjemur untuk
termoregulasi. Family Geoemydidae mencakup sekitar 70 spesies yang banyak terancam akibat
perdagangan dan degradasi habitat, termasuk C. amboinensis yang memerlukan upaya konservasi
berkelanjutan.
Interaksi yang teramati
Beberapa kura-kura terlihat berdekatan di area berjemur atau pinggir air, pola umum karena
mereka mencari spot yang nyaman, bukan karena perilaku sosial aktif. Tidak tampak persaingan atau
gerakan saling mendesak. Interaksi lebih berupa berbagi ruang secara pasif daripada interaksi langsung.
Namun terdapat beberapa kura-kura kecil yang sedang bermain di dalam air.
3. Landak jawa
Nama umum (lokal) : Landak Jawa
Nama Internasional : Sunda porcupine
Nama ilmiah : Hystrix javanica
Tingkatan Takson
Nama
Kingdom
Animalia
Phylum
Chordata
7
Class
Mammalia
Ordo
Rodentia
Famili
Hystricidae
Genus
Hystrix
Species
Hystrix javanica
Ciri-ciri morfologi yang diamati
Landak Jawa memiliki tubuh yang dipenuhi duri panjang, keras, dan tajam berwarna cokelat
kehitaman yang berfungsi sebagai pertahanan diri. Duri-durinya berbentuk silinder dengan panjang
sekitar 1525 cm. Tubuhnya relatif bulat dengan kaki yang pendek dan kuat untuk menggali tanah.
Kepala kecil dengan moncong runcing, mata kecil, dan telinga pendek. Warna tubuh cenderung gelap
sehingga membantu dalam kamuflase alami.
Habitat atau lokasi ditemukannya objek
Habitat alami Landak Jawa meliputi kawasan hutan primer, hutan sekunder, semak belukar,
perbukitan berbatu, hingga perkebunan. Hewan ini cukup adaptif terhadap lingkungan yang berubah.
Berdasarkan foto, objek pengamatan berada di area penangkaran atau kebun binatang, dibuktikan oleh
keberadaan papan informasi resmi di dinding kandang.
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik lainnya
1. Perilaku: Beberapa Landak tampak berkelompok dan bertumpuk dengan kondisi tertidur di area
kandang yang teduh. Duri mereka pada saat tertidur tampak rileks.
2. Kondisi lingkungan: Lingkungan berupa kandang berbatu yang menyerupai gua atau habitat alami
mereka di alam (area berbatu, celah, terowongan). Permukaan tanah dan batu tampak kering, cocok
untuk tempat beristirahat siang hari. Cahaya yang masuk terlihat cukup tetapi tidak langsung pada
landak, memberikan kesan area semi-gelap yang nyaman untuk hewan nokturnal.
8
3. Hal menarik: Landak jawa menunjukkan perilaku tidur saling berdekatan, yang dapat menandakan
rasa aman dan hubungan sosial antarindividu. Tampak duri-duri putih khas landak jawa yang dalam
posisi rileks dan tidak menegak, menunjukkan hewan berada dalam kondisi tidak terancam.
Lingkungan konservasi terlihat terawat dengan permukaan yang bersih dan tidak terlalu banyak
stimulus yang dapat mengganggu hewan siang hari.
Manfaat dan peranan ekologis
Landak Jawa memiliki peranan penting dalam ekosistem. Sebagai pemakan umbi, akar, dan
bagian tumbuhan lainnya, hewan ini membantu mengendalikan vegetasi liar. Aktivitas menggali tanah
yang sering dilakukan landak dapat meningkatkan aerasi dan kesuburan tanah. Selain itu, landak
berperan sebagai penyebar biji melalui kotoran, serta menjadi bagian dari rantai makanan yang
mendukung keseimbangan ekosistem. Dalam konteks manusia, landak dapat menjadi sumber edukasi
dan penelitian biologis..
Ciri khas dari spesies tersebut
Ciri khas yang paling mencolok dari Landak Jawa adalah durinya yang panjang, kaku, dan
mampu ditegakkan sebagai mekanisme pertahanan. Ketika merasa terancam, landak ini dapat
menghasilkan suara gesekan dari durinya. Selain itu, kemampuan menggali tanah yang kuat dan sifatnya
yang pemalu serta aktif pada malam hari menjadi karakteristik penting spesies ini. Keberadaannya yang
endemik juga menjadi ciri unik yang membedakannya dari landak lain.
Jenis dan deskripsi umum
Landak Jawa merupakan jenis mamalia pengerat dari ordo Rodentia yang tubuhnya ditutupi
duri. Ukurannya sedang, dengan kebiasaan makan tumbuhan seperti umbi, akar, buah, dan sayuran.
Spesies ini termasuk omnivora sederhana dan memiliki pola hidup nokturnal. Secara umum, landak ini
termasuk hewan yang soliter dan lebih banyak beraktivitas pada malam hari.
Interaksi yang teramati
Interaksi yang jelas adalah kontak kedekatan (proximity) karena landak tidur berdampingan.
Ini menunjukkan adanya interaksi sosial pasif, yaitu istirahat bersama tanpa aktivitas agresif atau
kompetitif.
9
4. Banteng
Nama umum : Banteng
Nama Internasional : Bull
Nama ilmiah : Bos javanicus
Tingkatan Takson
Nama
Kingdom:
Animalia
Phylum:
Chordata
Class:
Mammalia
Order:
Artiodactyla
Family:
Bovidae
Genus:
Bos
Species:
Bos javanicus
Ciri-ciri morfologi yang diamati
Secara morfologis, banteng memiliki tubuh besar dan kekar dengan otot-otot yang berkembang
baik, sehingga mendukungnya bergerak di medan hutan dan padang rumput. Warna tubuh banteng
jantan cenderung hitam atau cokelat gelap, sedangkan betina biasanya berwarna lebih terang dengan
rona kecokelatan. Tanduk jantan besar dan melengkung ke luar sebelum membengkok ke atas,
sedangkan tanduk betina lebih kecil dan ramping. Bagian kaki bawah banteng berwarna putih sehingga
10
tampak seperti mengenakan kaus kaki”, dan pola warna ini menjadi ciri khas yang mudah dikenali.
Bentuk kepala yang besar dan leher yang kuat menunjukkan adaptasi terhadap aktivitas merumput serta
pergerakan melalui semak belukar.
Habitat atau lokasi ditemukannya objek
Banteng secara alami hidup di habitat hutan tropis, padang rumput, savana, dan daerah berhutan
dengan sumber air yang memadai, karena mereka membutuhkan air untuk minum, mendinginkan tubuh,
dan mencari lumpur untuk melindungi kulit. Dalam pengamatan ini, banteng ditemukan di area
konservasi kebun binatang yang meniru habitat aslinya, dengan padang rumput, pepohonan, area
lumpur, dan kandang luas yang memungkinkan mereka berperilaku secara alami. Kondisi lingkungan
dibuat sedemikian rupa agar menyerupai habitat asli, seperti keberadaan rumput hijau, area teduh, serta
pagar pengaman yang tetap memberi ruang gerak luas bagi banteng.
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik lainnya
1. Perilaku: Banteng terlihat berjalan atau berdiri sambil mengamati lingkungan. Kepala menghadap
ke arah kamera menunjukkan ia sedang waspada namun tidak menunjukkan tanda stres. Tidak
tampak perilaku agresif seperti menundukkan kepala, mengentakkan kaki, atau memamerkan
dominasi. Sembari berjalan, banteng tersebut mencari rumput untuk dimakan.
2. Kondisi lingkungan: Lingkungan terbuka dengan padang rumput hijau yang tampak cukup luas
sebagai area jelajah banteng. Ada parit atau batas batu yang memisahkan area pengunjung dengan
area satwaini sesuai standar keamanan dan konservasi. Vegetasi cukup rimbun di bagian
belakang, memberikan pilihan area berteduh meskipun banteng berada di area terbuka saat foto
diambil. Cahaya matahari tampak cukup kuat (siang hari), tetapi area tetap terlihat teduh dan cukup
sejuk berkat pepohonan besar.
3. Hal menarik: Warna coklat kemerahan yang mencolok menunjukkan ini kemungkinan banteng
betina atau individu muda, karena jantan dewasa biasanya lebih gelap. Struktur kandang didesain
menyerupai sabana kecil, lengkap dengan elemen vegetasi dan penghalang alami.
Manfaat dan peranan ekologis
Dalam ekosistem, banteng berperan sebagai herbivora besar yang membantu menjaga
keseimbangan vegetasi melalui proses merumput yang mengontrol pertumbuhan tanaman tertentu,
sehingga mencegah dominasi spesies tumbuhan tertentu dan mendukung keanekaragaman hayati.
11
Banteng juga membantu penyebaran biji dari berbagai tanaman melalui kotorannya, yang memperkaya
regenerasi hutan dan padang rumput. Selain itu, keberadaan banteng sebagai satwa besar dapat menjadi
indikator kesehatan ekosistem, karena mereka memerlukan habitat yang luas, sumber air memadai, dan
vegetasi berkualitas. Hilangnya banteng dapat menjadi tanda kerusakan ekosistem secara keseluruhan.
Ciri khas dari spesies tersebut
Ciri khas banteng terletak pada perbedaan warna tubuh antara jantan dan betina, tanduk besar
melengkung, serta kaki bagian bawah berwarna putih yang tampak kontras dengan warna tubuhnya.
Selain itu, banteng jantan memiliki punuk kecil di bagian bahu yang tidak terlalu menonjol seperti
kerbau, serta bentuk tubuh lebih ramping dibandingkan sapi domestik. Perilaku hidup berkelompok
juga merupakan ciri khas yang membedakan banteng dari kerabat dekatnya, karena mereka umumnya
hidup dalam kelompok kecil yang dipimpin oleh seekor betina.
Jenis dan deskripsi umum
Banteng adalah salah satu dari tiga subspesies Bos javanicus yang tersebar di Asia Tenggara,
dengan Bos javanicus javanicus sebagai subspesies yang khas dari Indonesia. Secara umum, banteng
adalah hewan yang lebih liar, lebih kuat, dan lebih responsif terhadap ancaman lingkungan
dibandingkan sapi domestik. Mereka memiliki perilaku sosial kuat, suka bergerak dalam kelompok, dan
sering berpindah mengikuti ketersediaan pakan. Di alam liar, banteng juga dikenal sangat waspada,
cepat melarikan diri, dan tidak agresif kecuali merasa terancam.
Interaksi yang teramati
Interaksi yang tampak hanya berupa monitoring lingkungan, yaitu banteng memperhatikan arah
sekitarperilaku umum herbivora besar dalam memastikan keamanan. Setelah itu, banteng memakan
rumput yang ada di depannya.
5. Burung hantu ikan (pengganti sanca patola)
12
Nama umum : Burung Hantu Ikan
Nama Internasional : Buffy fish owl
Nama ilmiah : Ketupa
Tingkatan Takson
Nama
Kingdom
Animalia
Phylum
Chordata
Class
Aves
Order
Strigiformes
Family
Strigidae
Genus
Ketupa
Species
Ketupa ketupu
Ciri-ciri morfologi yang diamati
Burung Hantu Ikan memiliki ukuran tubuh besar, bulu berwarna cokelat burik atau abu-abu
dengan bercak gelap, serta mata besar berwarna kuning menyala yang memberikan kemampuan melihat
dalam cahaya minim. Paruhnya kuat dan melengkung khas burung pemangsa, sementara sayapnya lebar
sehingga memungkinkan terbang dengan suara hampir tidak terdengar. Leher burung ini tampak
berjambul, memberikan kesan lebih gagah dibandingkan burung hantu kecil. Kakinya kuat dan
dilengkapi cakar tajam untuk menangkap mangsa seperti ikan, tikus, atau amfibi.
13
Habitat atau lokasi ditemukannya objek
Habitat alami burung ini adalah hutan tropis lembap, terutama di dekat sungai, danau, rawa,
atau perairan dangkal karena mangsanya banyak ditemukan di area tersebut. Dalam pengamatan,
burung ini ditempatkan dalam kandang besar dengan jeruji besi yang ditutupi vegetasi rindang, ranting
pohon, dan area bertengger yang tinggi sehingga meniru habitat aslinya. Lingkungan kandang terlihat
cukup teduh dan sesuai dengan kebutuhan burung nokturnal yang tidak menyukai cahaya terlalu terang.
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik lainnya
1. Perilaku: Kedua burung hantu ikan tampak bertengger berdampingan pada batang kayu yang sama.
Posisi yang sangat dekat menunjukkan toleransi sosial yang baik, kemungkinan merupakan
pasangan atau individu yang sudah terbiasa hidup bersama dalam satu kandang. Keduanya terlihat
dalam kondisi tenang, duduk diam tanpa menunjukkan tanda agresi seperti membuka sayap,
menundukkan kepala, atau mengeluarkan suara ancaman. Karena burung hantu ikan adalah
nokturnal, perilaku tenang di siang hari adalah wajar.
2. Kondisi lingkungan: Kandang dikelilingi oleh jaring kawat yang rapat, sesuai standar kandang
burung pemangsa untuk menjaga keamanan sekaligus memungkinkan aliran udara. Terdapat
pepohonan dan tanaman besar di dalam kandang, memberikan suasana alami dan tempat berteduh.
Batang kayu digunakan sebagai perch (tempat hinggap), memberikan struktur yang mendukung
perilaku alami burung hantu untuk bertengger. Pencahayaan siang cukup terang, tetapi adanya daun-
daun besar menciptakan bayangan yang membuat area menjadi lebih sejuk dan teduh, sesuai
kebutuhan burung nokturnal.
3. Hal menarik: Burung hantu ikan memiliki ciri khas bulu coklat keemasan dan pola gelap pada
sayap, yang terlihat jelas di gambar. Jenis ini terkenal sebagai pemburu ikan, sehingga biasanya
kandang mereka juga menyediakan area air, meskipun tidak tampak dalam foto ini. Perch yang
diposisikan di tempat tinggi memberikan vantage point yang penting bagi burung predator untuk
memantau lingkungannya.
Manfaat dan peranan ekologis
Burung Hantu Ikan memiliki peran ekologis penting sebagai predator tingkat menengah yang
membantu mengontrol populasi tikus, serangga besar, ikan kecil, dan amfibi. Pengendalian populasi ini
sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan dan hutan, serta mengurangi hama
tanaman di area sekitar manusia. Selain itu, burung ini juga menjadi indikator kesehatan lingkungan
karena membutuhkan habitat yang bersih dan stabil untuk berkembang biak. Hilangnya burung hantu
ikan dapat mengganggu keseimbangan rantai makanan di ekosistemnya..
14
Ciri khas dari spesies tersebut
Ciri khas burung hantu ikan terletak pada mata besar berwarna kuning cerah, jambul di bagian
kepala, bulu bercorak tebal, serta kemampuan unik berburu mangsa air. Tidak seperti burung hantu lain
yang mengandalkan daratan, spesies ini berdiri di tepi sungai sambil mengamati pergerakan ikan
sebelum menangkapnya dengan cakar kuat. Mereka juga memiliki suara panggilan yang berbeda,
berupa pekikan keras yang sering terdengar pada malam hari, menjadi penanda keberadaannya di hutan.
Jenis dan deskripsi umum
Burung Hantu Ikan adalah spesies burung hantu besar yang tersebar di Asia Tenggara, terutama
di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Mereka merupakan hewan nokturnal yang sangat bergantung
pada penglihatan tajam dan pendengaran sensitif untuk berburu. Burung ini biasanya menghuni
pepohonan tinggi di dekat perairan dan membuat sarang di lubang pohon atau celah batu. Secara umum,
burung ini relatif pemalu dan jarang terlihat oleh manusia di siang hari karena menghindari cahaya
terang.
Interaksi yang teramati
Bertengger berdekatan merupakan bentuk asosiasi sosial positif, yang menunjukkan bahwa
mereka merasa aman satu sama lain. Tidak terlihat perilaku kompetitif atau dominansi. Interaksi ini
dapat menunjukkan bonding pasangan (umum pada spesies burung hantu yang monogami) atau
keduanya adalah individu kolektif yang hidup damai dalam satu area.
6. Sanca Kembang (Malayopython reticulatus)
15
Nama Umum (Lokal) : Sanca Kembang, Ular Sanca Batik
Nama Internasional :Reticulated Python
Nama Ilmiah :Malayopython reticulatus
Tingkatan Takson
Nama
Kingdom
Animalia
Filum
Chordata
Kelas
Reptilia
Ordo
Squamata
Famili
Pythonidae
Genus
Malayopython
Spesies
Malayopython reticulatus
Ciri-ciri Morfologi yang Diamati:
Sanca Kembang adalah ular terpanjang di dunia,dengan panjang rata-rata 4-6 meter dan rekor
lebih dari 8 meter. Tubuhnya ramping dan kuat untuk ukurannya. Pola warnanya sangat khas dan
kompleks, terdiri dari jaring-jaring geometris berwarna coklat, kuning, hitam, dan krem yang
membentuk "batik" yang indah. Kepalanya memanjang dan jelas terpisah dari leher, dengan garis hitam
mencolok yang membentang dari mata ke belakang kepala. Matanya memiliki pupil vertikal, adaptasi
sebagai predator nokturnal.
16
Habitat atau Lokasi Ditemukannya Objek:
1. Habitat Alami:Hutan hujan tropis, semak belukar, sungai, rawa-rawa, dan daerah dekat perairan.
Sangat adaptif dan dapat ditemukan di dekat pemukiman seperti gorong-gorong, lumbung padi, dan
area perkebunan.
2. Distribusi Geografis:Tersebar luas di Asia Tenggara, termasuk Indonesia (Sumatra, Jawa,
Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku), Filipina, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan
Bangladesh.
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik lainnya:
Ular ini adalah perenang yang sangat handal dan sering terlihat melintasi sungai.Aktif terutama
pada malam hari (nokturnal). Berburu dengan cara "menggentak" dan kemudian melilit mangsanya
dengan kuat hingga mati lemas sebelum ditelan bulat-bulat. Dapat ditemukan sedang beristirahat
dengan melingkar di dahan pohon yang rendah atau di semak belukar pada siang hari. Gerakannya
lambat dan tenang saat tidak terganggu.
Manfaat dan Peranan Ekologis:
1. Ekologis: Sebagai predator puncak, Sanca Kembang berperan crucial dalam mengendalikan
populasi mamalia seperti tikus, babi hutan, monyet, rusa kecil, dan mamalia lainnya. Hal ini menjaga
keseimbangan rantai makanan.
2. Manusia: Kulitnya memiliki nilai ekonomi tinggi untuk industri mode (tas, sepatu). Namun,
perdagangannya kini diatur ketat. Juga menjadi daya tarik dalam ekowisata dan pendidikan satwa
liar.
Ciri Khas dari Spesies Tersebut:
Ciri khas utama adalahpola "batik" atau jaring-jaring (reticulated) yang rumit dan indah di
sekujur tubuhnya. Ukuran panjangnya yang ekstrem menjadikannya ular terpanjang di dunia. Ular ini
juga dikenal sebagai perenang ulung yang dapat menyeberangi lautan untuk menjangkau pulau-pulau
baru. Rahangnya yang sangat fleksibel memungkinkannya menelan mangsa yang berukuran jauh lebih
besar dari kepalanya.
Jenis dan Deskripsi Umum:
17
GenusMalayopython sebelumnya digabung dengan Python. Spesies ini adalah ular pembelit
(constrictor) non-berbisa terpanjang di dunia. Mereka adalah predator penyergap yang mengandalkan
kamuflase dan kekuatan. Meskipun berukuran raksasa, serangan terhadap manusia sangat jarang terjadi.
Interaksi yang teramati
Terlihat 3 jenis ular lainnya dalam satu kandang yang sama, namun tidak terdapat interaksi
secara langsung. Terdapat beberapa ular yang saling bertumpuk, melilitkan tubuh bersama tanpa ada
tanda perkelahian.
7. Burung kakatua raja (Probosciger aterrimus)
Nama Umum (Lokal) : Kakatua Raja, Kakatua Hitam
Nama Internasional :Palm Cockatoo
Nama Ilmiah :Probosciger aterrimus
Tingkatan Takson
Nama
Kingdom
Animalia
Filum
Chordata
Kelas
Aves
Ordo
Psittaciformes
Famili
Cacatuidae
Genus
Probosciger
Spesies
Probosciger aterrimus
18
Ciri-ciri Morfologi yang Diamati:
Kakatua Raja adalah burung kakatua terbesar,dengan panjang tubuh sekitar 50-60 cm dan berat
hingga 1 kg. Seluruh bulunya berwarna hitam keabu-abuan, memberikan penampilan yang dramatis.
Pipinya berwarna merah terang dan tidak berbulu; warna ini dapat berubah menjadi lebih terang saat
burung bersemangat atau terangsang. Memiliki jambul yang besar dan mencolok yang dapat
ditegakkan. Paruhnya sangat besar, kuat, dan berwarna hitam, dengan ujung rahang atas yang panjang
dan runcing, merupakan salah satu paruh terkuat di antara burung paruh bengkok.
Habitat atau Lokasi Ditemukannya Objek:
1. Habitat Alami:Hutan hujan tropis dataran rendah, hutan savana beriklim tropis, dan hutan riparian.
2. Distribusi Geografis:Endemik di Pulau Papua (baik Indonesia dan Papua Nugini) serta Kepulauan
Aru. Juga ditemukan di ujung utara Australia (Semenanjung Cape York).
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik lainnya:
Biasanya terlihat berpasangan atau dalam kelompok kecil.Memiliki suara panggilan yang keras,
melengking, dan dapat terdengar dari jarak jauh. Perilaku yang paling unik dan langka di dunia burung
adalah kemampuannya menggunakan alat. Jantan akan mematahkan ranting dan memegangnya dengan
kaki, lalu mengetuknya secara ritmis pada batang pohon berongga yang dijadikan sarang. Perilaku ini
diduga sebagai bentuk display untuk memikat betina atau menandai sarang.
Manfaat dan Peranan Ekologis:
1. Ekologis: Sebagai penyebar biji yang penting, terutama untuk pohon-pohon keras (seperti kenari)
karena paruhnya yang sangat kuat mampu memecah biji-biji yang tidak dapat diakses oleh burung
lain.
2. Manusia: Merupakan spesies ikonik untuk ekowisata pengamatan burung (birdwatching).
Sayangnya, perdagangan liar dan hilangnya habitat menjadi ancaman serius.
Ciri Khas dari Spesies Tersebut:
Ciri khas yang tak terbantahkan adalahpenampilan seluruhnya hitam dengan pipi merah dan
paruh besar yang masif. Kemampuan menggunakan alat (ranting) untuk mengetuk merupakan ciri
19
kecerdasannya yang luar biasa dan membedakannya dari hampir semua burung lainnya. Memiliki
panggulan yang sangat khas, berupa siulan panjang yang diakhiri dengan suara memelas.
Jenis dan Deskripsi Umum:
Kakatua Raja adalah satu-satunya anggota dari genusProbosciger. Mereka adalah burung yang
monogami dan berumur panjang (dapat hidup lebih dari 50 tahun). Dibandingkan kakatua lain, mereka
lebih pemalu dan sulit diamati. Makanan utamanya adalah biji-bijian keras, kacang-kacangan, dan buah-
buahan.
Interaksi yang teramati
Posisi tubuh menghadap keluar seolah sedang mengamati lingkungan, ciri khas burung yang
waspada namun tidak tertekan.
8. Burung kakatua jambul kuning(Cacatua galerita)
Nama Umum (Lokal) : Kakatua Jambul Kuning, Kakatua Besar
Nama Internasional :Sulphur-crested Cockatoo
Nama Ilmiah :Cacatua galerita
Tingkatan Takson
Nama
Kingdom
Animalia
Filum
Chordata
Kelas
Aves
Ordo
Psittaciformes
20
Famili
Cacatuidae
Genus
Cacatua
Spesies
Cacatua galerita
Ciri-ciri Morfologi yang Diamati:
Burung berukuran besar(45-55 cm) dengan bulu seluruhnya putih bersih. Ciri paling mencolok
adalah jambulnya yang besar dan berwarna kuning sulphur (belerang) cerah, yang dapat ditegakkan
ketika burung sedang bersemangat, terkejut, atau waspada. Paruhnya berwarna hitam, besar, dan
melengkung kuat. Bulu di bawah sayap dan ekornya berwarna kuning pucat, yang terlihat jelas saat
burung terbang.
Habitat atau Lokasi Ditemukannya Objek:
1. Habitat Alami:Hutan, savana, lahan berhutan, dan area sepanjang sungai. Sangat adaptif terhadap
lingkungan yang terganggu.
2. Distribusi Geografis:Asli dari Papua, Kepulauan Maluku, dan Australia. Telah diintroduksi (sengaja
atau tidak sengaja dilepaskan) ke beberapa daerah seperti Bali, Hong Kong, Singapura, dan Selandia
Baru, di mana mereka telah membentuk populasi liar.
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik lainnya:
Sangat berisik dan hidup dalam kelompok besar yang mencapai puluhan bahkan ratusan
individu.Aktif di siang hari (diurnal). Sangat cerdas, penasaran, dan destruktif; sering terlihat menggigit
dan merusak kayu dengan paruhnya yang kuat, baik untuk mencari larva serangga maupun sekadar
bermain. Saat terbang dalam kelompok, suaranya sangat bising dan memekakkan telinga.
Manfaat dan Peranan Ekologis:
1. Ekologis: Berperan sebagai penyebar biji berbagai jenis tumbuhan. Juga membantu mengendalikan
populasi serangga hama kayu dengan memakan larvanya.
21
2. Manusia: Populer sebagai hewan peliharaan karena kecerdasannya dan kemampuan menirukan
suara. Namun, kebutuhan sosial dan sifat destruktifnya membuat perawatannya rumit. Juga dapat
menjadi hama bagi tanaman pertanian.
Ciri Khas dari Spesies Tersebut:
Ciri khas utama adalah jambul kuning cerah yang besar dan suara panggilannya yang sangat
keras dan melengking. Perilakunya yang sangat sosial dan hidup dalam kelompok besar (flock) yang
bising menjadikannya sangat mudah dikenali. Kemampuan adaptasinya yang tinggi memungkinkannya
hidup di berbagai habitat, termasuk perkotaan.
Jenis dan Deskripsi Umum:
Kakatua Jambul Kuning adalah salah satu kakatua putih yang paling dikenal.Mereka adalah
burung yang sangat sosial dengan struktur kelompok yang kompleks. Makanannya sangat bervariasi,
termasuk biji, kacang, buah, akar, dan serangga. Di alam liar, mereka memiliki peran penting dalam
dinamika kelompok dan komunikasi yang konstan.
interaksi yang teramati:
Kedua kakatua bertengger dalam jarak sangat dekat, menunjukkan adanya hubungan sosial
yang baik. Postur tubuh keduanya sejajar dan tenang, mengindikasikan interaksi non-agresif dan
kemungkinan saling nyaman satu sama lain. Tidak tampak interaksi dengan hewan lain atau penjaga
pada saat pengamatan.
9. Babirusa(Babyrousa spp.)
Nama Umum (Lokal) : Babirusa
Nama Internasional : Babirusa, Deer-pig
22
Nama Ilmiah :Genus Babyrousa (terdapat beberapa spesies, misalnya B.
babyrussa, B. celebensis)
Tingkatan Takson
Nama
Kingdom
Animalia
Filum
Chordata
Kelas
Mammalia
Ordo
Artiodactyla
Famili
Suidae
Genus
Babyrousa
Spesies
Babyrousa spp.
Ciri-ciri Morfologi yang Diamati:
Babirusa memiliki tubuh yang hampir tidak berbulu,dengan kulit berwarna abu-abu hingga
kecoklatan yang kasar dan berkerut. Ciri paling legendaris adalah gading pada jantan. Berbeda dengan
babi lain, gading babirusa adalah taring yang tumbuh secara vertikal. Gading bawah tumbuh menembus
moncong dan melengkung ke depan. Yang lebih unik lagi, gading atas tumbuh menembus tulang hidung
di moncongnya dan melengkung ke belakang menuju dahi, menyerupai tanduk. Betina tidak memiliki
gading yang berkembang sepanjang itu. Babirusa juga memiliki dua pasang tonjolan pada perut
(preputial pada jantan dan umbilical pada betina).
Habitat atau Lokasi Ditemukannya Objek:
1. Habitat Alami:Hutan hujan tropis yang lebat, hutan riparian (pinggir sungai), dan rawa-rawa.
Mereka bergantung pada sumber air untuk berkubang.
2. Distribusi Geografis:Endemik Indonesia, hanya ditemukan di Pulau Sulawesi dan beberapa pulau
satelitnya seperti Kepulauan Togian, Sula, dan Buru.
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik lainnya:
Hewan yang umumnya pemalu dan sulit ditemui,aktif di siang hari (diurnal). Sering terlihat
berkubang di lumpur untuk mendinginkan tubuh dan melindungi diri dari serangga. Jantan
23
menggunakan gadingnya terutama untuk ritual pertarungan dan display memperebutkan betina, dimana
mereka saling berdiri berhadapan dan mendorong dengan kaki depan. Meskipun terlihat berbahaya,
gading atasnya rapuh dan jarang digunakan untuk menusuk secara fisik.
Manfaat dan Peranan Ekologis:
1. Ekologis: Sebagai "insinyur ekosistem", aktivitas mengorek tanah dengan moncongnya membantu
aerasi tanah dan daur ulang nutrisi. Mereka juga berperan sebagai penyebar biji dari buah-buahan
hutan yang mereka makan.
2. Manusia: Merupakan spesies ikonik dan flagship untuk konservasi satwa endemik Sulawesi,
memiliki nilai ekowisata yang tinggi. Juga merupakan bagian penting dari warisan budaya lokal.
Ciri Khas dari Spesies Tersebut:
Ciri khas yang absolut adalahgading atas jantan yang tumbuh menembus moncong dan
melengkung ke arah dahi, sebuah adaptasi seksual yang unik dalam dunia mamalia. Statusnya sebagai
hewan endemik Sulawesi menjadikannya prioritas konservasi. Tubuhnya yang relatif ramping dan kaki
yang panjang dibandingkan babi lain membuatnya lebih lincah.
Jenis dan Deskripsi Umum:
GenusBabyrousa merupakan kerabat liar babi, tetapi dengan karakteristik morfologi dan
ekologi yang sangat berbeda. Saat ini umumnya diakui terdapat beberapa spesies, seperti Babirusa
Sulawesi (B. celebensis) dan Babirusa Togian (B. togeanensis). Mereka adalah hewan omnivora yang
memakan buah, akar, kacang-kacangan, dan hewan kecil. Hidup dalam kelompok kecil yang dipimpin
oleh jantan dominan.
Interaksi yang teramati
Tidak terlihat adanya interaksi sosial yang signifikan. Objek tampak melakukan aktivitas
mandiri, yaitu mencari atau memakan rumput/tanaman di area tanah berumput.
10. Siamang (Symphalangus syndactylus)
24
Nama Umum (Lokal) : Siamang
Nama Internasional :Siamang
Nama Ilmiah :Symphalangus syndactylus
Tingkatan Takson
Nama
Kingdom
Animalia
Filum
Chordata
Kelas
Mammalia
Ordo
Primates
Famili
Hylobatidae
Genus
Symphalangus
Spesies
Symphalangus syndactylu
Ciri-ciri Morfologi yang Diamati:
Siamang adalah owa(gibbon) terbesar, dengan tinggi sekitar 75-90 cm dan berat 10-14 kg.
Seluruh tubuhnya ditutupi bulu lebat berwarna hitam. Ciri fisik yang paling mencolok adalah kantung
tenggorokan (gular sac) yang besar dan tidak berbulu. Kantung ini dapat menggelembung hingga
seukuran kepalanya, berfungsi sebagai resonator untuk memperkeras suara panggilannya. Ciri khas
25
lainnya adalah jari kaki kedua dan ketiga pada setiap kakinya menyatu (sindaktili), yang merupakan
asal nama spesiesnya 'syndactylus'.
Habitat atau Lokasi Ditemukannya Objek:
1. Habitat Alami:Kanopi hutan hujan tropis dataran tinggi dan rendah. Mereka hampir sepenuhnya
arboreal (hidup di pohon).
2. Distribusi Geografis:Tersebar di Pulau Sumatra (Indonesia) dan Semenanjung Malaya (Malaysia
dan Thailand).
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik lainnya:
Siamang adalah ahlibrachiation, yaitu berayun dengan lengan yang sangat panjang dan kuat
dari dahan ke dahan dengan kecepatan dan ketangkasan yang luar biasa. Aktif di siang hari (diurnal).
Setiap pagi, kelompok keluarga siamang akan melakukan vokalisasi duet yang sangat keras dan
kompleks. Duet ini, yang dipimpin oleh betina, dapat terdengar hingga jarak 3 km dan berfungsi untuk
memperkuat ikatan pasangan serta mempertahankan teritorinya dari kelompok lain.
Manfaat dan Peranan Ekologis:
1. Ekologis: Sebagai pemakan buah (frugivor), Siamang adalah penyebar biji yang sangat penting
bagi banyak pohon hutan. Mereka menyebarkan biji dalam jarak jauh melalui kotorannya, sehingga
sangat vital untuk regenerasi dan kesehatan hutan.
2. Manusia: Merupakan spesies kunci untuk ekowisata pengamatan satwa dan pendidikan konservasi
primata.
Ciri Khas dari Spesies Tersebut:
Ciri khas utama adalah kantung tenggorokan yang menggelembung saat menghasilkan suara
panggulan yang nyaring, serta duet vokal yang spektakuler antara jantan dan betina. Penyatuan
(sindaktili) pada jari kaki kedua dan ketiga adalah ciri morfologis yang unik di antara owa. Ukurannya
yang besar dan warna hitam legam membuatnya mudah dibedakan dari owa lain.
26
Jenis dan Deskripsi Umum:
Siamang adalah satu-satunya spesies dalam genus Symphalangus. Mereka hidup dalam
kelompok keluarga inti yang monogami, terdiri dari sepasang induk dan 1-2 anaknya. Seperti semua
owa, mereka tidak memiliki ekor. Makanan utamanya adalah buah, daun, bunga, dan sesekali serangga.
Mereka adalah simbol hutan Sumatra yang sehat dan utuh.
interaksi yang teramati
Tidak terdapat interaksi sosial yang terlihat. Siamang tampak duduk diam dan beristirahat di
atas batang kayu dalam kandangnya. Tidak ada aktivitas seperti bermain, bersuara, atau berinteraksi
dengan individu lain.
TUMBUHAN
1. Pohon Sirsak
Nama Umum (Lokal) : Sirsak
Nama Internasional : Soursop
Tingkatan Takson
Nama
Kingdom
Plantae
27
Nama Ilmiah : Annona muricata L.
Ciri-ciri morfologi yang diamati.
1. Batang: Berkayu, percabangan rendah, kulit kayu berwarna coklat tua.
2. Daun: Tunggal, berbentuk bulat telur memanjang (elips), ujung dan pangkal runcing, tepi
rata, permukaan atas hijau tua dan mengilap, permukaan bawah hijau muda.
3. Bunga: Tunggal, muncul di batang atau cabang (kauliflori), memiliki tiga kelopak berwarna
hijau kekuningan dan tiga mahkota berwarna kuning tebal.
4. Buah: Buah majemuk (aggregate fruit), berbentuk jantung atau oval, kulit buah hijau
dengan duri-duri lunak yang tidak tajam. Daging buah berwarna putih, berserat, dan
mengandung banyak biji hitam.
Habitat atau lokasi ditemukannya objek.
Berasal dari Karibia, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Sekarang banyak dibudidayakan
di daerah tropis di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tumbuh optimal di dataran rendah hingga
ketinggian 1000 mdpl.
Berdasarkan gambar, lokasi ditemukannya objek adalah lingkungan pedesaan/tropis dengan
vegetasi lebat. Lahan di sekitar basah dan subur, ditanam di kebun rumah.
Divisi
Magnoliophyta
Kelas
Magnoliopsida
Ordo
Magnoliales
Famili
Annonaceae
Genus
Annona
Spesies
Annona
28
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik lainnya.
1. Perilaku: Vegetasi sangat hijau, menandakan ketersediaan air yang melimpah, posisi buah
menggantung pada cabang yang relatif rendah.
2. Kondisi lingkungan:Tanaman ini sering ditanam di pekarangan rumah atau kebun, biasanya
kondisi lingkungan ideal dari tanaman adalah yang memiliki curah hujan cukup tinggi dan yang
disukai adalah tempat terbuka dengan sinar matahari penuh.
3. Hal menarik: adalah bunganya sering dikunjungi kumbang penyerbuk, dan buah muda sering
menjadi sasaran hama seperti kutu putih atau ulat.
Manfaat dan peranan ekologis.
1. Manfaat: Buahnya dimakan segar atau diolah menjadi jus, dodol, dan selai. Daun, biji, dan akarnya
digunakan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai penyakit.
2. Peranan Ekologis: Menyediakan nektar dan pollen untuk serangga penyerbuk. Dapat menjadi
bagian dari sistem agroforestri sederhana.
Ciri khas dari spesies tersebut.
Buahnya yang berduri lunak dan bentuknya yang seperti jantung adalah ciri yang paling
mencolok. Daunnya yang lebar dan mengilap juga mudah dikenali.
Jenis dan deskripsi umum.
Sirsak adalah pohon buah-buahan perennial (tahunan) yang selalu hijau. Tingginya dapat
mencapai 8-10 meter. Tanaman ini dikenal karena buahnya yang memiliki rasa manis-asam yang
khas.
Interaksi yang teramati.
1. Dengan Serangga: Kumbang dan lebah mengunjungi bunga untuk mengambil nektar dan pollen,
sekaligus membantu penyerbukan.
2. Dengan Manusia: Pemilik kebun memanen buah untuk konsumsi atau dijual.
29
3. Dengan lingkungan sekitarnya: Pohon mendapatkan air dari hujan dan sinar matahari tersebar
yang cocok untuk fotosintesis.
4. Dengan tanaman lainnya: Sirsak tumbuh berdampingan dengan pohon pisang dan vegetasi lain.
Tanaman-tanaman ini saling berbagi ruang dan mungkin bersaing dalam hal cahaya.
2. Pohon Durian
Nama Umum (Lokal) : Durian
Nama Internasional : Durian
Nama Ilmiah : Durio zibethinus L.
Tingkatan Takson
Nama
Kingdom
Plantae
Divisi
Tracheophyta
Kelas
Magnoliopsida
Ordo
Malvales
Famili
Malvaceae
Genus
Durio
Spesies
Durio zibethinus L.
Ciri-ciri morfologi yang diamati.
1. Batang: Berkayu, tinggi, dapat mencapai 25-50 meter. Kulit batang berwarna coklat kemerahan dan
mengelupas.
30
2. Daun: Tunggal, berbentuk jorong hingga lanset, ujung runcing, permukaan atas hijau tua berkilap,
permukaan bawah keperakan atau keemasan karena sisik-sisik halus.
3. Bunga: Tumbuh dalam karangan langsung dari batang atau cabang tua (cauliflori), besar, berwarna
putih atau kuning kecoklatan.
4. Buah: Bulat hingga lonjong, sangat berduri tajam dan keras. Kulit buah hijau kekuningan saat
matang. Memiliki ruang dalam yang berisi daging buah (aril) berwarna krem hingga kuning emas,
bertekstur lembut, dan aroma yang sangat kuat.
Habitat atau lokasi ditemukannya objek.
Berasal dari hutan hujan tropis Asia Tenggara. Tumbuh liar dan dibudidayakan secara intensif
di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Memerlukan iklim lembap dengan curah hujan tinggi.
Berdasarkan gambar, nagka tumbuh di area pekarangan rumah, dengan lingkungan tropis lembab.
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik lainnya.
1. Perilaku: Warna daun pada buah bervariasi, menunjukkan pertumbuhan aktif dan adanya tunas
baru.
2. Kondisi lingkungan: Pohon durian biasanya tumbuh di daerah dengan drainase baik. Saat
berbunga, aroma bunga yang harum (sering digambarkan seperti susu asam) menarik kelelawar dan
ngengat sebagai penyerbuk utama.
3. Hal menarik: Suara jatuhnya buah durian yang matang adalah hal yang khas di kebun durian.
Manfaat dan peranan ekologis
1. Manfaat: Buahnya adalah komoditas buah segar bernilai tinggi. Kayunya juga dapat digunakan
untuk bahan bangunan.
2. Peranan Ekologis: Bunganya menjadi sumber makanan penting bagi kelelawar pemakan nektar
(Eonycteris spelaea) yang berperan sebagai penyerbuk kunci. Pohonnya yang besar menyediakan
habitat bagi berbagai burung dan hewan arboreal.
Ciri khas dari spesies tersebut
31
Aroma buahnya yang sangat kuat dan khas, serta kulit buah yang berduri tajam dan keras.
Ukuran pohonnya yang sangat tinggi juga menjadi pembeda.
Jenis dan deskripsi umum
Durian adalah pohon hutan hujan tropis yang berbuah musiman. Dijuluki "King of Fruits" (Raja
Buah) karena ukuran, aroma, dan rasanya yang unik. Terdapat banyak varietas kultivar unggul.
Interaksi yang teramati
1. Dengan Kelelawar & Ngengat: Hewan-hewan ini adalah penyerbuk utama bunga durian pada
malam hari.
2. Dengan Hewan Liar: Monyet, babi hutan, gajah, dan orangutan memakan buah durian yang
jatuh, membantu menyebarkan bijinya.
3. Dengan Manusia: Interaksi intensif untuk budidaya, panen, dan perdagangan buah.
4. Dengan lingkungan: Tanaman tumbuh berdampingan dengan tumbuhan lain di sekitar, terjadi
kompetisi cahaya dan ruang tumbuh.
3. Pepaya
Nama Umum (Lokal) : Pepaya
Nama Internasional : Papaya
Nama Ilmiah : Carica papaya L.
Tingkatan Takson
Nama
32
Kingdom
Plantae
Divisi
Magnoliophyta
Kelas
Magnoliopsida
Ordo
Violales
Famili
Caricaceae
Genus
Carica
Spesies
Carica papaya L.
Ciri-ciri morfologi yang diamati.
1. Batang: Berbatang tunggal, tidak berkayu (herbaceous), berongga, dengan bekas tangkai daun
yang menonjol. Getah berwarna putih.
2. Daun: Tumbuh berkumpul di ujung batang, berbentuk menjari (palmatifid) dengan cuping yang
dalam, tangkai daun panjang dan berlubang di tengah.
3. Bunga: Berumah satu atau dua. Bunga jantan dalam malai panjang, bunga betina tunggal atau
dalam kelompok kecil di ketiak daun.
4. Buah: Buah buni, bentuknya bervariasi (bulat, lonjong). Kulit buah hijau saat muda dan kuning
atau jingga saat matang. Daging buah oranye, dengan rongga berisi banyak biji hitam kecil
diselaputi lendir.
Habitat atau lokasi ditemukannya objek.
Berasal dari Amerika Tropis, kini tersebar dan dibudidayakan di semua daerah tropis dan
subtropis. Sangat mudah tumbuh di pekarangan, ladang, dan bahkan tumbuh liar. Berdasarkan gambar,
tanaman ditemukan di pedesaan dengan lingkungan tropis dan area terbuka,di tanam dan dikelola di
kebun rumah.
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik lainnya.
1. Perilaku: Tumbuh sangat cepat dan mudah berbuah, namun pada gambar buah masih dalam fase
pertumbuhan. Tandan buah tersusun rapi di batang bagian tengah, ciri khas pepaya sehat. Getahnya
33
yang putih dapat menyebabkan iritasi kulit pada sebagian orang. Bunganya diserbuki oleh ngengat
dan serangga kecil.
2. Kondisi lingkungan: Sering ditemukan di tanah-tanah kosong yang terbengkalai. Tumbuh di
ekosistem vegetasi campuran kaya.
3. Hal menarik: Setiap pohon pepaya diberi lingkaran pelindung, tampak berupa plastik UV atau
terpal diikat pada tiang kayu 7untuk melindungi tanaman dari hewan. Pepaya terlihat sangat
produktif meski berukuran relatif kecil. Ini menarik karena produktivitas tinggi bisa menunjukkan
pemupukan yang baik.
Manfaat dan peranan ekologis
1. Manfaat: Buah matang dimakan segar, buah muda dijadikan sayur (lodeh, oseng). Getahnya
mengandung enzim papain untuk melunakkan daging. Daunnya juga digunakan sebagai sayuran dan
obat tradisional.
2. Peranan Ekologis: Sebagai tanaman pionir, buahnya menjadi sumber makanan bagi burung dan
kelelawar.
Ciri khas dari spesies tersebut
Batangnya yang lunak seperti herba raksasa dan daunnya yang sangat besar berbentuk menjari.
Getah putih yang melimpah juga menjadi ciri khas.
Jenis dan deskripsi umum
Pepaya adalah tanaman herba perennial (tahunan) yang besar dan cepat tumbuh. Tanaman ini
berumah dua (dioecious) atau berumah satu (monoecious), sehingga ada pohon jantan, betina, dan
sempurna.
Interaksi yang teramati
1. Dengan Serangga: Ngengat dan kupu-kupu menghisap nektar bunga. Kutu putih dan tungau sering
menjadi hama.
2. Dengan Burung & Kelelawar: Memakan buah matang dan menyebarkan bijinya.
34
3. Dengan Manusia: Dipanen hampir setiap hari untuk konsumsi sehari-hari.
4. Dengan lingkungan: Tumbuhan lain di sekitar tidak terlalu rapat sehingga pepaya tidak berebut
cahaya.
4. Kelapa
Nama Umum (Lokal) : Kelapa
Nama Internasional : Coconut
Nama Ilmiah : Cocos nucifera L.
Tingkatan Takson
Nama
Kingdom
Plantae
Divisi
Magnoliophyta
Kelas
Liliopsida
Ordo
Arecales
Famili
Arecaceae
Genus
Cocos
Spesies
Cocos nucifera L.
Ciri-ciri morfologi yang diamati.
1. Batang: Berbatang tunggal (monopodial), berkayu, sering melengkung, dengan bekas pelepah daun
yang membentuk pola seperti sisik.
2. Daun: Daun majemuk menyirip, sangat panjang (4-6 meter), tersusun dalam mahkota di puncak
batang. Anak daun (pinnae) berbentuk pita.
35
3. Bunga: Terdapat dalam rangkaian (tandan) yang muncul di ketiak daun. Bunga berumah satu, bunga
jantan dan betina berada dalam satu tandan.
4. Buah: Buah berbentuk bulat hingga segitiga, buah batu (drupa). Serabut (mesokarp) tebal,
tempurung (endokarp) keras, dan di dalamnya terdapat daging buah (endosperm) dan air kelapa.
Habitat atau lokasi ditemukannya objek.
Tumbuhan pantai tropis yang sangat khas. Tumbuh di sepanjang pesisir pantai berpasir dan kini
banyak dibudidayakan di berbagai dataran rendah hingga menengah. Pada gambar, lokasi tanaman
berada di pedesaan, area pertanian. Pohon tumbuh di tanah yang miring dan terdapat vegetasi lebat.
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik lainnya.
1. Perilaku: Sangat tahan terhadap angin kencang dan semprotan air asin. Akar serabutnya yang
banyak dan kuat membantu menahan erosi di pantai. Bunganya diserbuki oleh serangga. Kelapa
pada gambar relatif muda, dengan daun kelapa berwarna hijau segar.
2. Kondisi lingkungan: Curah hujan tinggi, berada di area pertanian dan tumbuh di tanah yang miring
dengan vegetasi lebat. Tanah subur dan sering mendapat air.
3. Hal menarik: Pohon tumbuh di tepi lahan curam, menunjukkan akar kelapa yang kuat menghadapi
kemiringan tanah dan memiliki kemungkinan berguna dalam menahan erosi di sekitarnya.
Manfaat dan peranan ekologis
1. Manfaat: Hampir semua bagian berguna: buah untuk makanan dan minuman, kayu untuk bahan
bangunan, daun untuk atap dan anyaman, sabut untuk keset, dll. Dijuluki "Tree of Life".
2. Peranan Ekologis: Sangat penting untuk menstabilkan garis pantai dari abrasi. Menyediakan
habitat dan makanan bagi berbagai fauna pesisir.
Ciri khas dari spesies tersebut
Bentuknya yang khas sebagai pohon palem tinggi dengan buah bulat berserabut.
Kemampuannya tumbuh di lingkungan pantai yang ekstrem.
36
Jenis dan deskripsi umum
Kelapa adalah anggota keluarga palma (Arecaceae) yang merupakan tanaman serba guna.
Merupakan simbol dari daerah tropis.
Interaksi yang teramati
1. Dengan Lingkungan: Adanya kompetisi cahaya dengan pohon-pohon lain di sekitar.
2. Dengan hewan kecil: Terjadi interaksi yang umum dengan burung, serangga, dan tupai.
3. Dengan Manusia: Interaksi yang sangat erat dan multiguna untuk memenuhi berbagai kebutuhan
hidup.
5. Kacang panjang
Nama Umum (Lokal) : Kacang panjang
Nama Internasional : Yard-long bean, black-eye bean
Nama Ilmiah : Vigna unguiculata ssp. Sesquipedalis
Tingkatan Takson
Nama
Kingdom
Plantae
Divisi
Magnoliophyta
Kelas
Magnolipsida
Ordo
Fabales
Famili
Fabacaeae
37
Genus
Vigna
Spesies
Vigna unguiculata ssp. Sesquipedalis
Ciri-ciri morfologi yang diamati.
1. Batang: Berbatang lunak (herba), merambat atau memanjat dengan cara membelit, tidak berkayu.
2. Daun: Daun majemuk berseling, terdiri dari tiga anak daun (trifoliate). Anak daun berbentuk oval
atau segitiga.
3. Bunga: Berupa tandan, keluar dari ketiak daun, berbentuk seperti kupu-kupu (khas polong-
polongan), berwarna ungu, putih, atau kuning pucat.
4. Buah: Berupa polong (legume) yang panjang dan ramping, dapat mencapai 30-90 cm. Berwarna
hijau saat muda dan kecoklatan saat tua. Berisi banyak biji.
Habitat atau lokasi ditemukannya objek.
Dibudidayakan secara luas di ladang dan kebun sebagai tanaman sayuran semusim.
Memerlukan tiang atau lanjaran untuk merambat. Pada gambar, tanaman tumbuh di lahan pertanian
dataran tinggi.
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik lainnya.
1. Perilaku: Pertumbuhannya sangat cepat. Bunganya menarik bagi lebah dan kupu-kupu, pada
gambar terdapat bunga yang tampak mekar dan menunjukkan bahwa tanaman dalam fase generatif.
Tanaman tumbuh memanjang pada lanjaran bambu atau kayu. Daun sebagian ada yang menguning
atau terdapat bercak coklat akibat penuaan
2. Kondisi lingkungan: Lingkungan sedikit berkabut dan lembab, lahan diatur dengan mulsa plastik
untuk mencegah gulma dan mempertahankan kelembapan. Gulma tetap tumbuh di beberapa area,
terutama di luar jalur tanaman, menandakan kondisi lingkungan yang cukup lembab.
3. Hal menarik: Tiang kayu tegak dan horizontal membentuk rangka rambatan. Beberapa batang kayu
terlihat kurang stabil atau miring akibat beban tanaman atau kondisi tanah yang basah.
Manfaat dan peranan ekologis
38
1. Manfaat: Polong muda dan daunnya merupakan sayuran yang populer. Biji tuanya juga dapat
dimakan.
2. Peranan Ekologis: Sebagai tanaman penutup tanah yang cepat tumbuh dan mampu memfiksasi
nitrogen dari udara, sehingga meningkatkan kesuburan tanah.
Ciri khas dari spesies tersebut
Polongnya yang sangat panjang dan ramping, serta kebiasaannya yang merambat dengan
membelit lanjaran.
Jenis dan deskripsi umum
Kacang panjang adalah tanaman sayuran semusim dari keluarga kacang-kacangan (legume).
Siklus hidupnya pendek dan sangat produktif.
Interaksi yang teramati
1. Dengan lingkungan: Tanaman merambat memanfaatkan penopang kayu untuk tumbuh ke atas.
Hujan dan suhu yang lembab terlihat mendukung pertumbuhan daun meski memiliki potensi
meningkatkan risiko penyakit.
2. Dengan tanaman lain: Gulma bersaing dalam hal nutrisi dan ruang.Tanaman saling berinteraksi
dengan sesama denga rangka rambatan, membentuk struktur yang cukup rapat.
3. Dengan Serangga Penyerbuk: Lebah membantu penyerbukan bunga. Kutu daun dan ulat grayak
adalah hama umum.
4. Dengan Manusia: Dipanen secara rutin untuk dijadikan sayuran.
6. Buncis
39
Nama Umum (Lokal) : Buncis
Nama Internasional : Common bean, Green bean, French bean
Nama Ilmiah : Phaseolus vulgaris
Tingkatan Takson
Nama
Kingdom
Plantae
Filum
Magnoliophyta
Kelas
Magnoliopsida
Ordo
Fabales
Famili
Fabaceae
Genus
Phaseolus
Spesies
Vigna unguiculata ssp. Sesquipedalis
Ciri-ciri morfologi yang diamati.
1. Akar: Memiliki sistem perakaran tunggang dan terdapat bintil-bintil akar (nodul) tempat bakteri
pengikat nitrogen.
2. Batang: Berwarna hijau, berbuku-buku, lunak (herbaceous), dan tumbuh membelit (tipe merambat)
atau tegak (tipe perdu/tegak).
3. Daun: Daun majemuk beranak tiga (trifoliate), berbentuk bulat telur hingga segitiga dengan ujung
runcing, tepi rata, dan pertulangan menyirip.
4. Bunga: Berbentuk seperti kupu-kupu (papilionaceous), berwarna putih, ungu, atau merah muda.
Termasuk bunga sempurna (hermafrodit).
40
5. Buah: Berbentuk polong panjang, berwarna hijau muda hingga tua, lurus atau sedikit melengkung,
berisi biji di dalamnya.
Habitat atau lokasi ditemukannya objek.
Buncis dapat tumbuh optimal di daerah beriklim sedang hingga tropis dengan curah hujan
cukup. Menyukai tanah yang gembur, kaya humus, dan drainase baik.
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik lainnya.
1. Perilaku Tumbuhan: Batang terlihat aktif membelit pada ajir (tiang penyangga) sebagai respon
tigmotropisme (gerak membelit karena sentuhan).
2. Kondisi Lingkungan: Tanaman tumbuh di area yang terkena sinar matahari langsung dengan
kondisi tanah yang lembap.
3. Hal Menarik: Daun tanaman buncis kadang terlihat agak menutup atau layu pada sore/malam hari
(gerak niktinasti) dan membuka kembali saat terkena cahaya matahari.
Manfaat dan peranan ekologis
Sebagai sumber bahan pangan manusia yang kaya akan protein nabati, serat, vitamin A, C, dan
K. Dapat menyuburkan tanah, akar buncis akan bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium untuk mengikat
nitrogen bebas dari udara menjadi nitrat yang dapat digunakan oleh tumbuhan lain, sehingga
meningkatkan kesuburan tanah secara alami.
Ciri khas dari spesies tersebut
Memiliki daun majemuk beranak tiga (trifoliate), bunganya memiliki struktur khas kupu-kupu
dengan satu kelopak bendera yang besar dan adanya bintil-bintil pada akar (nodul) yang merupakan ciri
khas famili Fabaceae.
41
Jenis dan deskripsi umum
Buncis adalah tanaman sayuran buah semusim (annual), buncis termasuk tanaman semak atau
merambat yang siklus hidupnya pendek (panen dalam 45-60 hari). Tanaman ini tidak memiliki kayu
keras dan seluruh bagian buah mudanya (polong) dapat dikonsumsi.
Interaksi yang teramati
1. Simbiosis Mutualisme: Interaksi antara akar tanaman dengan bakteri Rhizobium (bintil akar).
2. Herbivori: Terlihat adanya lubang pada daun (jika ada) yang menandakan interaksi dengan hama
ulat atau belalang.
3. Kompetisi: Tanaman buncis terlihat berkompetisi memperebutkan cahaya matahari dengan gulma
di sekitarnya (jika ada rumput liar).
7. Timun
Nama Umum (Lokal) : Timun / Mentimun
Nama Internasional : Cucumber
Nama Ilmiah : Cucumis sativus
Tingkatan Takson
Nama
Kingdom
Plantae
Filum
Magnoliophyta
Kelas
Magnoliopsida
42
Ordo
Cucurbitales
Famili
Cucurbitaceae
Genus
Cucumis
Spesies
Cucumis sativus L.
Ciri-ciri morfologi yang diamati.
1. Akar: Memiliki sistem perakaran tunggang dengan banyak akar serabut di permukaan tanah.
2. Batang: Batang lunak, berair, berwarna hijau, beralur, dan memiliki rambut-rambut halus yang agak
kasar/tajam. Tumbuh merambat atau menjalar.
3. Daun: Daun tunggal, lebar, berbentuk bulat atau jantung dengan tepian berlekuk (menjari) dan
bersudut runcing. Permukaan daun terasa kasar jika diraba.
4. Bunga: Berwarna kuning cerah, berbentuk seperti lonceng. Biasanya terdapat bunga jantan dan
bunga betina pada satu tanaman (monoecious).
5. Buah: Buah sejati tunggal (tipe pepo), berbentuk lonjong memanjang, kulit buah berwarna hijau
(kadang ada bintil-bintil kecil atau garis putih), daging buah berair.
6. Sulur: Terdapat sulur berbentuk spiral yang keluar dari ketiak daun, berfungsi untuk melilit
ajir/penyangga.
Habitat atau lokasi ditemukannya objek.
Timun tumbuh subur di iklim tropis dan subtropis, membutuhkan paparan sinar matahari penuh
dan tanah yang gembur serta kaya air.
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik lainnya.
1. Perilaku Tumbuhan: Sulur tanaman aktif mencari pegangan dan melilit kuat pada tiang penyangga
(tigmotropisme) untuk menopang batang yang lemah agar bisa tumbuh ke atas.
2. Kondisi Lingkungan: Tanaman terlihat segar pada pagi hari, namun daun yang lebar cenderung
agak layu saat siang hari yang terik untuk mengurangi penguapan.
43
3. Hal Menarik: Permukaan batang dan daun terasa "gatal" atau kasar saat disentuh karena adanya
trikoma (rambut halus).
Manfaat dan peranan ekologis
Buahnya dikonsumsi sebagai lalapan, acar, atau jus karena kandungan air yang tinggi, vitamin
K, dan mineral. Digunakan juga dalam kosmetik untuk masker wajah. Bunganya merupakan sumber
serbuk sari dan nektar bagi serangga penyerbuk (polinator) seperti lebah dan semut.
Ciri khas dari spesies tersebut
1. Adanya sulur dahan (tendril) berbentuk spiral yang keluar dari sisi tangkai daun.
2. Bunga berwarna kuning cerah berbentuk terompet/lonceng.
3. Tekstur batang dan daun yang kasar/berbulu (hispid).
Jenis dan deskripsi umum
Timun adalah tanaman herba semusim merambat dari keluarga labu-labuan yang menghasilkan
buah yang dapat dimakan. Tanaman ini tidak dapat berdiri tegak sendiri tanpa bantuan penyangga atau
akan menjalar di tanah (creeping).
Interaksi yang teramati
1. Polinasi: Terlihat lebah atau semut mengerubungi bunga kuning untuk membantu penyerbukan
(bunga jantan ke bunga betina).
2. Herbivori: Terdapat bekas gigitan pada daun (biasanya kumbang daun atau ulat) yang memakan
bagian tepi daun.
3. Kompetisi: Sulur timun kadang melilit tanaman lain di sekitarnya dalam upaya mencari sinar
matahari.
44
8. Daun bawang
Nama Umum (Lokal) : Daun Bawang / Bawang Daun
Nama Internasional : Onion/ Welsh onion
Nama Ilmiah : Allium fistulosum L.
Tingkatan Takson
Nama
Kingdom
Plantae
Filum
Magnoliophyta
Kelas
Liliopsida
Ordo
Asparagales
Famili
Amaryllidaceae
Genus
Allium
Spesies
Allium fistulosum L.
Ciri-ciri morfologi yang diamati.
1. Akar: Sistem perakaran serabut (fibrous root), dangkal, dan tumbuh dari bagian cakram (batang
sejati) di pangkal.
2. Batang: Memiliki dua jenis batang. Batang sejati berupa cakram tipis di bagian dasar. Bagian putih
panjang yang terlihat di atas tanah adalah batang semu (pseudostem) yang terbentuk dari pelepah
daun yang saling membungkus.
45
3. Daun: Berbentuk bulat panjang silindris seperti pipa (fistula), berongga di bagian tengah, berwarna
hijau muda hingga hijau tua dengan lapisan lilin tipis. Ujung daun meruncing.
4. Bunga: (Jika ada) Berbentuk payung majemuk (umbel) berwarna putih yang tumbuh di ujung
tangkai bunga yang panjang.
Habitat atau lokasi ditemukannya objek.
Tumbuh optimal di dataran rendah maupun tinggi (pegunungan), menyukai tanah yang gembur,
drainase baik, dan cukup air namun tidak menggenang. Dalam hal ini area lahan pertanian/kebun sayur,
ditanam pada bedengan tanah yang dilapisi plastik mulsa perak-hitam.
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik lainnya.
1. Perilaku: Tanaman terlihat tumbuh secara berumpun (tunas anak tumbuh rapat di samping tanaman
induk) dan daunnya tumbuh tegak lurus ke atas untuk memaksimalkan penerimaan cahaya matahari.
2. Kondisi Lingkungan: Lingkungan tumbuh menggunakan mulsa plastik perak-hitam di bagian akar
untuk menahan kelembapan. Namun, di area luar plastik (sela-sela bedengan) terlihat banyak gulma
atau tanaman liar yang tumbuh subur dan cukup tinggi, menandakan persaingan ruang tumbuh yang
ketat di sekitar lahan.
3. Hal Menarik: Meskipun bagian pangkal hingga tengah daun berwarna hijau segar dan kokoh,
terlihat beberapa ujung daun bagian atas sudah mulai menguning dan kering (nekrosis).
Manfaat dan peranan ekologis
Sebagai bumbu dapur utama (penyedap rasa), bahan pelengkap masakan (martabak, sop), dan
sumber vitamin A, C, serta antioksidan. Aroma menyengat dari tanaman ini dapat berfungsi sebagai
repellent (penolak) hama alami bagi tanaman lain di sekitarnya, sehingga sering dijadikan tanaman
tumpangsari.
Ciri khas dari spesies tersebut
1. Daun berbentuk silinder dan berongga (seperti pipa).
2. Batang bagian bawah berwarna putih bersih hingga hijau pucat (batang semu).
46
3. Tidak membentuk umbi lapis yang besar seperti bawang merah, melainkan tumbuh memanjang.
Jenis dan deskripsi umum
Tanaman herba monokotil semusim atau dua musim. Daun bawang adalah jenis sayuran dari
kelompok bawang-bawangan yang diambil bagian daun dan batang putihnya. Tanaman ini tumbuh
tegak dengan akar serabut yang tidak masuk terlalu dalam ke tanah.
Interaksi yang teramati
1. Kompetisi: Terlihat adanya gulma (rumput liar dan tanaman liar berbunga putih/ungu,
kemungkinan Ageratum) yang tumbuh di sela-sela bedengan, berkompetisi mencari nutrisi dengan
tanaman utama.
2. Campur Tangan Manusia: Penggunaan mulsa plastik menunjukkan adanya rekayasa lingkungan
untuk mengurangi penguapan air dan menghambat pertumbuhan gulma di dekat akar tanaman.
9. Oyong/Gambas
Nama Umum (Lokal) : Oyong, Gambas, Ceme
Nama Internasional : Angled Luffa, Chinese Okra, Ridge Gourd
Nama Ilmiah : Luffa acutangula
Tingkatan Takson
Nama
Kingdom
Plantae
Filum
Magnoliophyta
Kelas
Magnoliopsida
47
Ordo
Cucurbitales
Famili
Cucurbitaceae
Genus
Luffa
Spesies
Luffa acutangula (L.) Roxb.
Ciri-ciri morfologi yang diamati.
1. Batang: Batang merambat, berwarna hijau, berusuk lima (persegi lima), dan memiliki sulur (alat
pembelit) yang keluar dari ketiak daun.
2. Daun: Daun tunggal, lebar menjari (biasanya 5-7 lekukan), berwarna hijau gelap, permukaannya
kasar.
3. Bunga: Berwarna kuning cerah, berukuran cukup besar, tumbuh di ketiak daun. (Terlihat satu bunga
mekar di sisi kanan foto).
4. Buah: Berbentuk lonjong memanjang seperti gada, berwarna hijau tua, dan memiliki ciri khas
rusuk-rusuk tajam yang menonjol memanjang dari pangkal ke ujung.
5. Akar: Sistem perakaran tunggang.
Habitat atau lokasi ditemukannya objek.
Tumbuh di daerah tropis yang hangat, membutuhkan penyinaran matahari penuh. Biasanya
ditanam di ladang atau pekarangan dengan bantuan tiang rambat. Lahan pertanian terbuka
(sawah/ladang), tanaman dirambatkan pada tiang-tiang bambu (lanjaran).
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik lainnya.
1. Perilaku: Tanaman menggunakan sulur (tendril) untuk melilit kuat pada tiang bambu agar batang
bisa tumbuh vertikal menopang buah yang menggantung.
2. Kondisi Lingkungan: Lingkungan terlihat basah/lembap (daun terlihat basah terkena air hujan atau
embun). Tanah di bawahnya tampak berupa tanah lempung yang agak becek.
3. Hal Menarik: Banyak daun yang mengalami kerusakan fisik berupa bercak-bercak cokelat dan
lubang-lubang, yang kemungkinan besar disebabkan oleh serangan hama kumbang daun atau
48
penyakit jamur karena kelembapan tinggi. Buah oyong menggantung ke bawah mengikuti gaya
gravitasi.
Manfaat dan peranan ekologis
Sebagai sumber bahan pangan manusia yang buah mudanya dimasak sebagai sayur (sayur
bening, tumis) karena teksturnya yang lembut dan manis. Memiliki kandungan serat dan vitamin C.
Bunganya yang kuning dan mencolok berfungsi menarik serangga penyerbuk (polinator) seperti lebah
dan semut hitam.
Ciri khas dari spesies tersebut
Buahnya memiliki rusuk/siku yang tajam dan keras sepanjang kulit buah (ini yang membedakan
dengan jenis luffa lain/blustru yang kulitnya halus) dan batangnya berbentuk segi lima.
Jenis dan deskripsi umum
Tanaman sayuran buah merambat semusim. Oyong adalah tanaman dari keluarga labu-labuan
yang dikenal luas di Asia. Tanaman ini tumbuh cepat dan membutuhkan penopang (para-para atau
lanjaran) agar buahnya tumbuh lurus dan tidak busuk menyentuh tanah.
Interaksi yang teramati
1. Interaksi Fisik: Sulur tanaman melilit tiang bambu buatan manusia sebagai penopang hidup.
2. Herbivori/Penyakit: Teramati adanya interaksi negatif dengan organisme lain, dibuktikan dengan
daun-daun yang bolong dan bergerigi (dimakan ulat atau kumbang) serta bercak nekrosis (kematian
jaringan daun) berwarna kecokelatan.
3. Kompetisi: Di bagian bawah (lantai tanah), terlihat adanya rumput liar yang tumbuh bersaing
memperebutkan nutrisi tanah.
10. Raspberry gunung
49
Nama Umum (Lokal) : Raspberry Gunung, Arben Hutan, Arbei, Gusberi, Beri Hutan
Nama Internasional : West Indian Raspberry, Rose-leaf Bramble
Nama Ilmiah : Rubus rosifolius
Tingkatan Takson
Nama
Kingdom
Plantae
Filum
Magnoliophyta
Kelas
Magnoliopsida
Ordo
Rosales
Famili
Rosaceae
Genus
Rubus
Spesies
Rubus rosifolius Sm.
Ciri-ciri morfologi yang diamati.
1. Batang: Berkayu lunak, tumbuh semak atau merambat (scrambling), berwarna hijau kecokelatan,
dan memiliki duri-duri kecil yang tajam bengkok ke bawah pada batangnya.
2. Daun: Daun majemuk menyirip ganjil (pinnate), anak daun berbentuk bulat telur memanjang
(lanset) dengan tepian bergerigi (serrated). Permukaan daun terlihat berkerut mengikuti tulang daun.
3. Bunga: (Umumnya) Berwarna putih, memiliki 5 kelopak, tumbuh tunggal atau dalam kelompok
kecil.
4. Buah: Buah buni majemuk (aggregate fruit), berbentuk bulat agak lonjong. Berwarna hijau saat
muda dan merah terang saat matang. Berongga di bagian tengah jika dipetik.
50
Habitat atau lokasi ditemukannya objek.
Tumbuh liar di daerah pegunungan yang sejuk, pinggiran hutan (forest margin), dan semak
belukar terbuka atau area semak belukar liar yang rimbun. Menyukai tanah yang lembap dan sedikit
ternaungi.
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik lainnya.
1. Perilaku: Tanaman tumbuh menyemak dan menyebar (invasif lokal), cabang-cabangnya cenderung
menjulur ke segala arah menutupi tanah atau menopang pada tanaman lain.
2. Kondisi Lingkungan: Lingkungan sangat lembap dan basah (daun terlihat basah), vegetasi sangat
padat dan rapat (heterogen).
3. Hal Menarik: Tanaman ini tumbuh bercampur baur dengan tanaman liar lain sehingga agak sulit
membedakan pangkal batangnya, menunjukkan kemampuan adaptasi yang tinggi di lingkungan liar.
Manfaat dan peranan ekologis
Buahnya yang matang (merah) dapat dimakan langsung, rasanya manis agak asam dan segar.
Kaya antioksidan. Daunnya kadang digunakan sebagai obat herbal tradisional (rebusan). Buahnya
menjadi sumber pakan penting bagi burung-burung liar dan mamalia kecil di ekosistem hutan.
Semaknya menjadi tempat perlindungan hewan kecil.
Ciri khas dari spesies tersebut
Batang dan tangkai daun yang berduri tempel (seperti mawar), buah berwarna merah menyala
dengan tekstur berbintil-bintil (seperti stroberi tapi berongga), dan daun majemuk dengan tepi bergerigi
tajam.
Jenis dan deskripsi umum
Tanaman perdu/semak tahunan. Raspberry gunung adalah kerabat mawar yang tumbuh liar di
dataran tinggi Indonesia. Tanaman ini dikenal sebagai tumbuhan pionir yang cepat menutupi lahan
terbuka.
51
Interaksi yang teramati
1. Kompetisi Tingkat Tinggi: Tanaman Raspberry Gunung ini tumbuh bersaing ketat (kompetisi)
memperebutkan ruang dan cahaya dengan rumput gajah/ilalang tinggi yang mencuat di tengah-
tengahnya dan tanaman paku (ferns) di bagian bawah.
2. Naungan: Semak raspberry ini memberikan naungan bagi tanaman paku-pakuan kecil di bawahnya
agar tetap lembap.